Seeing Good in All

Yes., It's me. You will find a glimpse angle of my life. I am just an ordinary person who wants to be an extraordinary person with all of the weakneses. I wanna be the change that I want to see in the world.

Thursday, June 23, 2005

Teknik Kimia Indonesia Tertinggal 10 Tahun

Penulis: Iis Zatnika

JAKARTA--MIOL: Indonesia tertinggal sepuluh tahun dalam pengembangan industri kimia dibandingkan negara Asean lainnya.

Hal itu dipicu oleh mahasiswa teknik kimia yang 90%-nya masih berorientasi ke dunia kerja. Ini menghambat perkembangan inovasi di bidang kimia.

Demikian terungkap dalam Seminar Industri Kimia sekaligus Rapat Koordinasi Daerah Badan Koordinasi Kegiatan Mahasiswa Teknik Kimia Indonesia (BKKMTKI) di kampus Institut Sains dan Teknologi (ISTA) Al Kamal Jakarta, Minggu (19/6).

Sekretaris Daerah BKKMTKI Isnandhi Dwi Saputra mengungkapkan contoh kongkrit ketertinggalan Indonesia, pengembangan industri sari kelapa di Indonesia yang baru dimulai 1980. Padahal, di Filipina yang potensi perkebunan kelapanya lebih kecil, sari kelapa telah diproduksi masal sejak 1970-an.

Selama ini, kata Isnandhi lulusan teknik kimia itu lebih cenderung masuk dunia kerja, karena selain lebih mudah, penghasilannya juga lumayan. Namun di tingkat nasional, kata dia, kondisi itu telah menyebabkan inovasi yang dihasilkan Indonesia sangat minim. "Jarang ada alumni yang berkonsentrasi mengaplikasikan ilmunya di dunia usaha untuk mengolah sumber alam yang kita miliki."

Hal senada juga diungkapkan mahasiswa teknik kimia ISTA Hastho. Menurut dia, keengganan itu juga dipicu oleh sistem pembelajaran di kampus yang memang mengorientasikan mahasiswa menjadi pekerja. Kondisi itu, terlihat dari minimnya peralatan praktek serta bahan percobaan yang tersedia di kampus.

Masalah itu tidak hanya terjadi di kampus-kampus swasta, namun juga perguruan tinggi negeri (PTN). Akibatnya, kesempatan berpraktek dan melakukan inovasi pun sangat terbatas.

Padahal, kata Isnandhi, pengaplikasian teknik kimia secara optimal dapat menjadi solusi bagi Indonesia untuk keluar dari krisis ekonomi. Pasalnya, teknik kimia mampu memberikan nilai tambah pada potensi alam di Tanah Air. Selama ini, Indonesia lebih banyak mengekspor kekayaan alamnya dalam bentuk mentah. Misalnya kelapa, yang lebih banyak mengekspor dalam bentuk kopra.

"Padahal jika sudah diolah dalam bentuk virgin oil, harganya bisa berlipat. Sayangnya belum banyak petani yang tahu. Kini kami berusaha melatih masyarakat Kampung Panjang di Banten untuk mengolah kelapa yang bertebaran di wilayahnya," kata Isnandhi.

Ketua Jurusan Teknik Kimia ISTA Al Kamal, Tri Yuni Hendrawati pun mengakui hal itu. Ia menyatakan, dana yang dibutuhkan untuk membeli peralatan dan bahan percobaan tidak sedikit. Kondisi itu jelas sangat menyulitkan bagi kampus-kampus swasta yang tidak menerima subsidi, seperti PTN.

Guna mensiasatinya, kata Tri pihaknya kini mengaplikasikan piranti lunak yang mampu mensimulasi percobaan dan penelitian yang dilakukan mahasiswa.

"Kini peralatan dan bahan percobaan bukan lagi masalah. Simulasi ini kita harapkan dapat seefektif jika kami menggunakan percobaan di dunia nyata. Jika semua kampus dapat mengaplikasikannya kita harap perkembangan teknik kimia lebih maju," kata Tri. (Zat/OL-02)

1 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home